Ia menegaskan bahwa feeling roda depan adalah kunci bagi seorang pembalap. Namun jika bagian depan terlalu dominan, roda belakang bisa kehilangan peran penting saat keluar tikungan. Semua menjadi soal kompromi dan pilihan teknis yang tepat.
Ducati sendiri menyadari kuatnya fondasi motor mereka. Musim 2026 diperkirakan bukan era perubahan besar, melainkan penyempurnaan kecil di berbagai detail. Sebab, salah langkah bisa membuat motor terasa lebih nyaman, tetapi justru mencatat waktu putaran yang lebih lambat.
Menariknya, titik balik performa Márquez di musim 2025 terjadi setelah Aragon Test. Saat itu, ia memilih kembali menggunakan geometri dan dimensi motor yang lebih mendekati setelan Ducati lainnya. Hasilnya, motor menjadi lebih stabil, lebih mudah dikendarai, dan performanya konsisten hingga mampu mendominasi balapan dalam jangka panjang.
Kini, pertanyaan besar muncul, ke arah mana Ducati harus melangkah di 2026? Mengutamakan ketajaman bagian depan sesuai keinginan pembalap, atau mempertahankan kekuatan grip belakang yang selama ini menjadi kunci kemenangan?
0 Comments